Tags

, , , , ,

Pikiran ini berawal ketika aku ngepoin Pak Basuk Tjahaja Purnama, atau kita lebih kenal dengan Pak Ahok. Beliau saat ini sedang kembali mencalonkan diri sebagai Gubernur DKI Jakarta. Putaran pertama Pilkada DKI Jakarta sudah berlangsung dan menyingkirkan pasangan Agus – Sylvie. Kali ini pada putaran kedua Pak Ahok bersama Pak Djarot saiful Hidayat harus head to head dengan Pak Anis Baswedan dan Pak Sandiaga Uno.

Stasuin TV Nasional, berkali-lagi dan bergantian mengadakan acara Debat bahkan Talkshow dengan menghadarikan kedua pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur tersebut. Ini juga yang membuat aku ikut-ikutan nonton, padahal bukan domisili Jakarta. Yang menarik dari setiap acara adalah bagaimana pola kampanye yang dilakukan oleh kedua belah pihak. Aku memperhatikan, apa yang ditawarkan oleh masing-masing pihak kepada masyarakat agar masyarakat Jakarta terutama dapat memilih mereka.

Sebelumnya, aku suka pada bidang pendidikan. Seperti kata Paulo Freire, Pendidikan membuat manusia dapat menemui Fitrahnya. Bahkan aku membuat komunitas yang terinspirasi dari Pak Anis Baswedan yang mencetus gerakan Indonesia Mengajar. Aku pikir, Pak Anis ini kok keren banget. Tau kalau permasalahan di Indonesia ini dapat dipecahkan melalui pendidikan. Bagaimana membuat anak-anak dipelosok desa, peduli akan pendidikan mereka sehingga dapat memperbaiki diri dan bangsanya.

Pendidikan menjadi kosern yang penting, sehingga tidak jarang juga dijadikan produk politik atau kampanye. Jakarta pada zaman Jokowi dan Ahok sebagai Gubernur dan Wagub, DKI punya Kartu Jakarta Pintar (KJP). Kartu ini memberikan bantuan bagi anak-anak yang kurang mampu untuk mengakses pendidikan, mengakses buku dan lainnya. Kartu-kartu jenis ini juga sudah banyak diaplikasikan oleh kepala daerah lain. Wahh, ini bagus sebenarnya.. Bagaimana uang negara digunakan untuk memperbaiki sektor pendidikan. Bagaiama akhirnya anak-anak mulai peduli akan pendidikannya, mulai bisa mengakses pendidikan tanpa biaya mahal bahkan gratissss..

Pada pilkada DKI Jakarta putaran kedua kali ini, Pak Ahok sebagai Petahana tentu masih akan menjalankan program KJP ini. Nah, kalau Pak Anis justru menghadirkan KJP Plus yang dimana anak tidak sekolah juga bisa mendapatkannya. Sedangkan pada beberapa kali acara di TV, Pak Ahok bersikeras jika beliau terpilih lagi yang dapat KJP ya cuma anak yang mau sekolah saja. Ini nihh yang menarik, kalau orang awam melihat ya pasti enak laah dengan pilihan Pak Anis Sekolah dapat bantuan, ga sekolah-pun dapat bantuan. Enak.

Tapi kalau dari kacamata pendidikan atau dilihat dari kacamataku lah yaa minimal. Justru KJP PLUS lebih tidak mendidik. Lhaa orang yang gak sekolah juga dapet, ya mending gausah sekolah. Ini nihh.. Padahal aku dulu nge-fans lohh sama Pak Anis. Aku suka ketika Beliau sempat menjabat sebagai Mentri Pendidikan, ketika melihat sepak terjangnya memperbaiki pendidikan di pelosok-pelosok. Tapi karena KJP Plus ini, jadi kurang cocok rasanya dengan pemikiran Pak Anis. Justru tidak akan mendidik ketika anak-anak itu dikasi-kasi bantuan berupa fresh money, kemudian dilepas dan tidak di didik. Pola pemberian bantuan yang seperti ini justru harus dihindari. Menggelontorkan dana banyak ke daerah, dan kurang dipantau terhadap penggunaanya. Ini justru akan memicu munculnya korupsi-korupsi kecil.

Aku justru lebih sepakat dengan Pak Ahok. Kalau memang ingin memperbaiki dunia pendidikan, ya buat agar anak-anak itu mau sekolah. Buat agar anak-anak itu mudah dan murah mengakses pendidikan. Tegas. Jika tidak mau sekolah ya tidak dapat bantuan apa-apa. Kalau mau sejahtera ya sekolah dulu. Bahkan Pak Ahok juga dengan tegas dapat mengelola pola-pola pemberian bantuan kepada masyarakat Jakarta. Memberikan bantuan sekaligus mendidik, kalau mau dapat ya harus dibarengi dengan proses yang baik, transparan dan bertanggungjawab.

Sekali lagi, untuk memperbaiki Indonesia salah satu jalan yang bisa digunakan adalah melalui pendidikan. Bukan hanya membangun Mental tapi juga memperbaiki sekolah-sekolah, lengkapi sarana dan prasarana pembelajaran, tingkatkan kualitas pendidik, dan perbaiki sistem pendidikan. Sudah menjadi kewajiban Negara untuk memastikan bahwa setiap anak dapat mengenyam pendidikan yang layak.

 

Advertisements