Kintamani, 7 Oktober 2015

Misi perjalanan hari ini sebenarnya hanya meminta tanda tangan Kepala Desa Songan B, untuk melengkapi data program kreativitas mahasiswa. Geregetan sama pencemaran air bikin Ody juga geregetan sama Eceng Gondok di Danau Batur. Baca di beberapa literatur, Eceng Gondok yang bisa bikin pendangkalan oleh lumpur ini juga bisa dibikin Biogas.

image

Karena mengunjungi langsung daerah rencana kegiatan, kami sekaligus survey daerah persebaran eceng gondok di Danau Batur. Tidak perlu jauh, cukup jalan sampai Puta Ulundanu Batur udah bisa kita liat pemandangan Eceng Gondok di pesisir danau.

Tak bisa dipungkiri ketika dua gadis remaja yang sedang penat tiba-tiba dapat menjumpai kawasan yang eksotis. Adegan foto selfie dengan latar Danau dan Gunung Batur tentu tak dapat dihindari. Tak peduli panas dan debu dari truk pasir yang lewat kami mengabadikan moment hampir di setiap spot menarik.

image

image

Tidak hanya pemandangan, jiwa sosialpun tumbuh seiring adanya interaksi dengan beberapa penduduk Desa sekitar Danau Batur. Ada hal yang kami pelajari sepanjang perjalanan, beberapa pertanyaan muncul, dan hadir ide-ide gila hasil perberbincangan itu.

image

Everything is connected, bahkan semesta mempertemukan kami dengan Ibu Kartini, salah satu akademisi Udayana. Beliau ternyata juga sedang mengotak-atik masalah eceng gondok bersama kawan-kawan SMK. Yah, niat makan Be Mujair jaen khas Kintamani, ternyata dapat tambahan informasi dan ilmu.

Enggan meninggalkan Taman Nasional Geopark Batur dengan sejuta keindahannya, kami memutuskan beristirahat didermaga. Penjual aksesoris dan kacang rebus menyerbu dan memaksa kami membeli dagangannya. Dua bungkus kacang rebus telah habis, empat buah gelangpun telah di bayar lunas, kami memutuskan untuk kembali ke Denpasar.

image

Ahh, perjalanan yg cukup melelahkan, terimakasih semesta selalu memberikan sesuatu hal yg baru dalam hidup kami.

Salam, Maya Goldyna😘💞

Advertisements