Tiap insan manusia tentu memiliki masa lalu yang pahit. Masa lalu yang menyedihkan, menyakitkan, dan menyebalkan. Lantas, apa itu akan membuat si manusia harus terpuruk kedepannya? Apakah si manusia itu harus membenci dan mendendam?

Sudahlah kawan benci dan dendam itu hanya akan membuat hidupmu ke depan tidak menyenangkan. Dalam setiap aliran darahmu seolah menjadi hitam atas ambisi dan kesakitan masalalu. Karena hati yang memompa darahmu tertutup oleh kekalutan, amarah, dan dengki.

Manusia diberikan akal budi dan hati. Tidak bisakah kau menggunakan hatimu dengan bijak dan baik? Selayaknya kau menggunakan akal dan budimu. Seharusnya semua itu tumbuh harmonis dalam pikiran, raga dan jiwamu.

Orang-orang yang menyayangimu dan orang-orang yang ada didekatmu juga akan merasakan kesakitan yang kamu rasakan. Mungkin kau tidak akan menyadarinya. Ketahuilah semua yang kau lakukan atas dasar sakit hati dan bencimu itu juga akan mempengaruhi semua kegiatanmu. Mempengaruhi karunia yang sudah Tuhan berikan padamu.

Dulu aku juga pernah merasakan sakit dan dikecewakan. Entah itu dari sahabat, saudara, kekasih, bahkan orang tua sekalipun. Hingga aku seolah mengutuk diri dan hidupku. Mengapa kesialan dan kesakitan saja yang selalu menyapaku? Namun, Tuhan memang Maha Kuasa karena mempertemukanku dengan banyak orang Hebat. Mereka berbagi dan mendengarkan keluh kesahku. Hingga akhirnya aku paham, kebencian itu hanya akan membuang energiku secara percuma. Kebencian hanya akan membawa keburukan pada setiap langkahku. Akhirnya aku bertekad untuk sembuh dan menerima semua jalan sakit yang Tuhan berikan. Aku belajar menjadikan itu kekuatan untuk jalan selanjutnya.

Mungkin aku memang tidak bisa menyembuhkanmu. Mungkin aku tidak bisa melepaskanmu dari rasa bencimu. Karena sakit ‘itu’ (tunjuk kepala) dan ‘ini’ (tunjuk dada) hanya bisa disembuhkan oleh dirimu sendiri.

Ahh, ini hanya sedikit kata-kata yang ingin sekali aku ungkapkan kepada sahabat yang sangat aku sayangi. Sejujurnya aku bingung dan takut dengan keadaanku sekarang. Disatu sisi aku ingin menemaninya dan berbagi agar dia bisa segera melepaskan segala rasa bencinya. Disisi lain aku merasa takut maksud baikku justru disangka tidak baik dan seolah menggurui. Jika aku bertahan, konsekuensinya adalah aku menyakiti diriku sendiri. Namun sahabat apa yang pergi dikala kawannya sedang sakit.

Sebenarnya aku adalah salah satu orang dalam daftar orang yang dia benci. Karena ketidak tahuan dan ketidak sengajaan aku ‘melukai’nya. Sejuta maaf sudah aku lontarkan rasanya. Bahkan dia juga sudah melepaskan rasa amarahnya berkali-kali padaku. Mungkin dia tidak menyadari itu.

Apa yang bisa aku lakukan dalam keadaan seperti ini. Aku tidak ingin ikut kalut dan sakit. Adakah cara lain yang bisa ku tempuh agar kami baik-baik saja? Aku sangat menyayangi sahabatku ini. Bahkan dia ku anggap lebih dari sahabat. Lebih dan lebih lagi.

Denpasar, 27 Maret 2015
Disebelah sahabatku yang masih tertidur

Advertisements