Mungkin umurnya saat ini hampir setahun. Aku memintanya dari sebuah keluarga di Desa Tambakan, desa mitra Komunitas Kampoeng Ilmu pada November 2012 lalu. Wajahnya lucu, kecil, dan imut kala itu. Warnanya coklat muda dan ada beberapa aksen garis hitam di sekitar kaki-kakinya. Yang paling ku suka adalah ekornya, dengan ujung lebat berwarna putih, unik sekali. Aku tidak tau pasti RAS-nya apa, yang jelas hampir menyerupai Anjing Kintamani atau Anjing Gunung.

Sebelumnya kawan-kawanku memanggilnya Tolo. Hingga setelah beberapa hari ku pelihara, adik-adikku menamainya Chiby. Mungkin karena dari kita tidak terlalu suka dengan Girlband maka kita menamai seperti itu.. hahahaha, Tapi apalah arti sebuah nama bagi seekor anjing.

Ini anjing ke 3 yang pernah aku pelihara, setelah sebelumnya aku memelihara Yoko, Gary dan Tico. Mereka juga anjing lokal yang ku curi dari induknya setelah sebulan dilahirkan di selokan depan rumahku.
Sempat pada bulan Maret aku menaruh chiby di rumah seorang kawan di Desa Pelaga Badung. Namun tak lebih dari 2 minggu Chiby dikabarkan sakit dan tidak pernah mau makan. Aku putuskan untuk membawanya lagi. Ketika melihatku Chiby langsung loncat-loncat dan mengelilingku seolah bahagia dan meminta perhatianku. Sontak saja aku peluk dan kutepuk-tepuk kepalanya. Chiby sangat suka ketika aku mengelus kepalanya. Ekor yang awalnya bergoyang-goyang langsung berhenti seolah memfokuskan rasa pada tepukan-tepukanku.
Kesibukanku pada kuliah dan organisasi membuatku sering tidak pulang kerumah. Pertimbangan rumah yang lumayan jauh dan naiknya harga BBM membuatku memilih untuk menginap di Sekretariat GmnI Denpasar.

Seperti malam ini, setelah 3 hari membolang akhirnya aku merindukan rumah. Sampai di rumah, Chiby lah yang menyambutku pertama kali. Dia tampak gelisah dan ingin melepaskan diri dari rantainya. “ah, mungkin Chiby ingin buang air kecil.” pikirku. Yaaa, dia adalah anjing pintar yang selalu ingin keluar rumah ketika buang air. Ketika aku menghampirinya, dia duduk dan menjulurkan kaki kanan depannya seperti akan salam. Aku memang sengaja mengajarkan ini padanya.

Ketika aku melepas ikatan rantai, Chiby tidak langsung keluar rumah, dia malah naik keatas motor Varioku. Ahh rupanya dia ingin diajak jalan-jalan. Terlalu sering aku mengajaknya naik motor membuat dia ketagihan jalan-jalan. Aku putuskan untuk keluar lagi walau sempat memasuki rumah untuk membeli ‘canang’. Chiby nampak senang, angin meniup bulu-bulu ketika dia melengokkan kepalanya disebelah motorku. Merasa sudah cukup untuk melepas rindu dengan Chiby aku kembali mengikatnya. Tapi dia malah terus memutari aku hingga aku duduk dan memeluknya. Berkali-kali dia menggigit tanganku dan mencoba mencium wajahku. “Hei, Chiby kenapa? Kangen ya?” Kataku sambil mengelus kepalanya.

Ada sedikit rasa sesak dan bahagia ketika dia mulai bertingkah seperti itu. Ahh, lucu sekali anjingku satu ini. Ternyata Chiby juga bisa rindu :’D

Advertisements