Saat ini aku sedang duduk di halaman depan SMAN 4 Denpasar. Menunggu Mentri Pendidikan dan Kebudayaan Moehamad Nuh yang tak kunjung datang. Sejenak aku termenung. Untuk melaunching Pemantapan atau Try Out saja harus dirayakan sedemikian meriahnya. Kalau bisa aku prediksikan mungkin acara ceremonial ini bisa menelan dana lebih dari 20 juta rupiah.. Hal itu bisa aku lihat dari tenda yang dipasang, hiasan-hiasan gapura, sound, dan yang paling penting makanannya broo.. Banyak dan bermerek.. Belum lagi bingkisan dari sponsor yang ada baju dan selendang atau udeng.

Yah, begitulah Negaraku tercinta Indonesia.. Hampir setiap hari yang aku liput itu adalah acara-acara ceremonial.. Acaranya juga tidak tanggung-tanggung.. Diadakan di gedung yang mewah, dengan makanan yang berlimpah.. Barapa gepok duit yang harus dikeluarkan untuk itu?

Pikiranku melayang lagi kepada Acara APEC yang diadakan di Bali Oktober lalu. Acara yang menurutku ceremonial itu tentu telah menelan dana milyaran rupiah. Yah, meski mereka mengatakan dalam acara itu terdapat rapat besar dunia, tetap saja aku yakin keputusan yang diambil dalam forum telah disepakati sebelumnya di luar forum. Aku sangat menyayangkan, kenapa pemerintah Indonesia dengan bangga mengadakan forum itu. Forum dimana Indonesia telah dijual oleh Kepala Negaranya dan sekaligus telah menelan milyaran uang Negara.

Itu baru APEC, kemarin ada MDG’s besok masih ada WTO dan masih banyak lagi acara ceremonial yang akan diagendakan di Indonesia khususnya di Bali. Aku heran, mengapa negara ku penuh dengan ceremonial. Padahal bisa kita lihat disisi lain masih banyak orang yang bahkan tidak tau bagaimana harus merayakan acara istimewanya. Bahkan untuk makanpun susah. Di Nusa Dua Convention Center itu mereka dengan megahnya menyelenggarakan acara yang menurutku esensinya tidak ada.. Hanya ceremonial semata? Dan kita bangga akan hal itu?

Kenapa dana triliunan itu tidak diberikan untuk memperbaiki sekolah yang rusak? Atau untuk memberi makan keluarga yang tidak mampu? Atau memberi pendidikan kepada adik-adik kita yang belum mendapat akses pendidikan?

Aku harap negara kita tidak lagi hanya menjadi negara yang bangga menjadi Event Organizer (EO). Aku harap dana ceremonial yang triliunan itu lebih dapat dimanfaatkan dengan menjalankan amanat bangsa yaitu ‘Mencerdaskan Kehidupan Bangsa’ dan lebih membuat Indonesia dapat berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi, dan berkepribadian dalam budaya.

Advertisements