Siapa yang tidak tau keindahan pantai di pulau Bali. Hampir setiap pesisir pantai di Bali memiliki daya tarik tersendiri untuk dikunjungi. Salah satu pantai yang masih tenang dan jarang di kunjungi adalah Pantai Geger. Pantai Geger terletak di selatan Pulau Bali, yaitu di wilayah Nusa Dua.

Pantai ini terkenal akan ombaknya yang tenang. Namun ketika lebih ke tengah laut ombaknya besar. Banyak orang yang tertarik untuk melakukan surfing. Tidak hanya pasir dan air lautnya, di sekitar pantai juga terdapat kebun rumput laut. Masyarakat sekitar banyak yang menjadi petani rumput laut. Masyarakat di pantai geger juga mengais penghasilan dari menyewakan payung dan bed untuk bersantai sambil menawarkan jasa massage.

Warga yang rata-rata ibu-ibu itu membuat suatu Grup Massage yang beranggotakan 26 orang. Bekerjasama dengan koperasi, mereka menamai kelompoknya KSU Widyapaka Samudra Geger Nusa Dua Bali. Secara bertahap kelompok ibu-ibu itu membeli payung dan bed di koperasi yang perpaketnya mencapai harga 3 juta rupiah.

Berjalan hampir 12 tahun, saat ini mereka telah memiliki 20 set payung dan bed. Untuk sekali sewa bed mereka mematok harga 50 ribu per pasang. Secara bergiliran, mereka menjual jasa massage kepada wisatawan yang dominan dari manca negara.

Berbekal bahasa inggris pasaran, ibu-ibu yang rata-rata tidak lulus SD itu mendapatkan pelangganan tidak menentu tiap harinya. Secara bergiliran mereka menjual jasa dengan harga 150 ribu per orang. Namun tak jarang para wisatawan menawarnya hingga hampir 50 ribu. Pendapatan perhari mereka kumpulkan menjadi satu untuk kemudian dibagi rata dengan seluruh anggota kelompok.

Tinggal di kawasan wisata tidak membuat mereka lantas berbangga akan daerahnya. “Seneng gak seneng sih. Mendinglah bisa kerja begini daripada jadi buruh proyek atau petani rumput laut.” Ujar salah satu dari mereka.

Kawasan Panyai Geger saat ini sudah semakin ramai. Dibangunnya hotel The Mulia Resort Bali yang tepat berada di kawasan Pantai Geger diharapkan dapat membantu kelompok massage ini mendapat banyak pelanggan. Namun semenjak pembangunan hotel pelanggan kelompok massage ini justru semakin menurun. Hal itu diakibatkan karena beberapa tamu merasa terganggu atas pembangunan hotel. Hingga beroperasinya hotel mulai tahun 2012, pelanggan yang datang semakin sedikit. Selain itu, wilayah yang dapat mereka gunakanpun semakin sempit karena pihak hotel membatasi kawasannya. “Tamu yang di hotel malah gak pernah massage disini. Di hotel kan udah ada spa sendiri. Terus dari hotel juga ada petugas. Ini tamu-tamu yang datang sekarang malah dari jauh, mereka tinggal di kuta dan sanur. Udah tamu sepi, harga barang disini makin mahal karena daerah wisata. Susah juga tinggal disini.” Cerita Nyoman Astini yang merupakan Ketua dari Group Massage ini.

Begitulah potret kawasan wisata Pantai Geger. Pariwisata yang seharusnya dapat meningkatkan pendapatan mereka, justru malah membatasi ruang gerak dan mempersulit kehidupan warga asli daerah. Keinginan pemerintah untuk membuat standarisasi harga hotel bukan merupakan suatu pemecahan masalah. Seperti salah satu ungkapan Gubernur Bali dalam pembukaan seminar ISMPI “Kita standarisasi saja harga hotel di Bali. Biar wisatawan yang datang kebanyakan wisatawan elit dan bukan backpacker.”

Padahal jika kita perhatikan, wisatawan backpackerlah yang membeli nasi orang-orang bali, yang tinggal di losmen punya orang bali, dan menyewa motor milik orang bali. Wisatawan elite malah menginap di hotel mahal yang kita tau sendiri kebanyakan milik orang asing.
Kalau hotel di kembangkan terus, orang Bali kapan berkembangnya? Apa mereka hanya bisa menjadi tukang massage pinggir pantai yang berpenghasilan rendah?(Canna)

Advertisements