Indonesia memiliki potensi sumberdaya alam di setiap daerah yang sangat besar. Namun masyarakat di Indonesia belum sepenuhnya dapat mengembangkan dan mengelola sumber daya alam tersebut. Pendidikan, keterampilan serta modal yang dimiliki masyarakat Indonesia masih kurang. Kepedulian masyarakat untuk mencari inovasi-inovasi baru juga tergolong rendah.  Pada akhirnya keadaan seperti itu dimanfaatkan oleh Negara-negara maju. Dengan dalil globalisasi, Negara maju mulai menjajah Indonesia dengan penjajahan model baru. Melalui perdagangan bebas, investasi-investasi hingga mempengaruhi pemerintah dalam membuat kebijakan-kebijakan.

Globalisasi merupakan permainan diatas angin yang digerakkan oleh beberapa negara-negara maju yang sudah tentu akan memenangkan permainan. Sedangkan negara berkembang akan kalah dalam permainan itu karena memang sumberdaya manusianya belum siap dan belum memiliki taktik dalam memainkannya.

Dengan sumberdaya manusia yang belum berpotensi maksimal, Indonesia sebagai negara berkembang tentu tidak akan sanggup mengikuti arus globalisasi yang sangat deras. Dengan investasi-investasi dan perdagangan bebas, masyarakat Indonesia seakan diberi kemudahan untuk bersaing dalam dunia global. Mendapatkan keuntungan yang instan dan mudah membuat Indonesia mau menandatangani perjanjian perdagangan bebas dunia. Padahal ketika dilihat lebih dalam, keuntungan yang akan didapatkan Indonesia tidaklah seberapa. Negara maju tentu dapat meraup keuntungan lebih banyak dari Indonesia. Itulah Kapitalisme, meraup keuntungan sebanyak-banyaknya dengan memberikan hanya sebagian kecil untuk pihak lain yang terlibat.

Globalisasi dikatakan sebagai akal-akalan Negara maju karena globalisasi dianggap menindas Negara-negara yang sedang Berkembang dengan sistem kapitalnya. Dalam Globalisasi terjadi persaingan berskala Internasional yaitu persaingan kualitas, kuantitas dan kontinuitas serta bernilai tambah yang sangat ditentukan oleh penguasaan teknologi akan memimpin dan menguasai dunia dan memenangkan persaingan untuk memperoleh semuanya (winner takes all). Sementara Negara miskin akan gigit jari jadi penonton yang terbengong-bengong. Contohnya adalah di Indonesia yang memiliki potensi pasar yang baik karena mempunyai jumlah masyarakat yang besar merupakan tempat ideal bagi para kapitalis menjajah kembali negeri kita, dengan membeli asset – asset strategis Negara kita, sehingga produk yang mereka hasilkan ada yang membeli dan mereka bebas meneintervensi bangsa kita.

Melalui globalisasi, negara berkembang termasuk Indonesia kembali dijajah saat ini. Dengan dalih membuka lapangan pekerjaan dan persaingan global, pihak-pihak barat mulai menginvestasikan hampir sebagian besar lahan, perekonomian dan sistem di Indonesia. Keadaan ini jika disamakan dengam zaman Belanda tidaklah jauh berbeda. Pihak asing saat ini sedang terus mencoba untuk memanfaatkn Sumber Daya Alam dan Sumber Daya Manusia Indonesia untuk meraup keuntungan yang sebesar-besarnya bagi negara mereka. Akan tetapi memang dengan cara yang berbeda dari zaman penjajahan Belanda. Saat ini mereka menggunakan cara yang lebih halus dan lebih menjanjikan. Sehingga perlu diperhatikan dengan sangat jeli untuk memahami cara penjajahan mereka saat ini.

Solusi yang dapat ditawarkan adalah dengan membatasi pihak asing untuk berinvestasi di Indonesia. Membuat kebijakan-kebijakan yang pro pada masyarakat kecil dan petani. Kemudian meningkatkan taraf hidup masyarakat Indonesia dengan pendidikan yang tinggi dan merata sehingga masyarakat dapat mengembangkan potensi Sumber Daya Alam di Indonesia dan dapat bersaing di kancah Internasional.

Advertisements