Tags

Hal menarik aku dapatkan ketika terjebak hujan deras di perpustakaan Komunitas Kampoeng Ilmu di Desa Plaga. Bersama zenith, rizky, dan beberapa teman lainnya kami berbicara tentang landscape Jakarta hingga akhirnya topik merambat kemana-mana. Berlatarbelakang arsitektur dan hoby gambar membuat mereka enjoy dengan topik itu. Ditengah-tengah ceritanya, rizky sempat nyeletuk.. “Tipikal orang indonesia adalah suka menyembunyikan. Contohnya kalau ada orang renovasi rumah, pasti yang dibagusin bagian depan dulu baru bagian belakang. Liat sampah bukannya dibuang malah disembunyiin dalam kolong. Haha.. Segala yang buruk pasti tidak ingin diperlihatkan atau sering di tutup-tutupi”.

Saat itu aku mulai membayangkan seperti halnya dengan pelaksanaan akreditasi sekolah atau kampus. Ketika akan dilakukan penilaian dan pemantauan, sekolah atau kampus yang dikunjungi tentu akan mempersiapkan segalanya dan menampilkan yang terbaik. Mulai dari membersihkan lingkungan kampus, meng-upgrade sarana dan prasarana kampus, melengkapi administrasi, hingga memberikan pembekalan terhadap dosen dan mahasiswa yang akan mengikuti proses pemantauan. Ditunjukkanlah sistem yang baik, tata ruang yang baik, infrastruktur yang lengkap, pengajar dan mahasiswa yang baik sehingga penilaiannya tentu akan baik.

Padahal masih banyak kekurangan yang ditutup-tutupi hanya untuk mendapatkan peringkat yang bagus. Contoh kecil yang acap kali disinggung kawan-kawan adalah WC dan air. Air yang biasanya selalu mati seketika mengalir pada saat akreditasi begitu pula dengan WC yang kotor. Tapi setelah hari itu, semuanya akan kembali seperti biasa. Nah itu baru WC. Parahnya lagi, saat proses penilaian dikatakan dalam proses belajar-mengajar di satu kelas terdapat mahasiswa paling banyak 40 orang. Padahal kenyataannya bisa overload sampe 80 orang. Itu mah udah penipuan namanya..

Akreditasi memang sangat penting dilakukan untuk menggambarkan kualitas, mutu, dan efektifitas suatu lembaga pendidikan. Tapi jika penilaian dilakukan hanya dalam waktu satu hari dan terdapat banyak hal yang ditutup-tutupi seperti itu apakah kualitasnya sudah benar-benar baik?

Benar juga ya bahwa tipikal orang Indonesia itu suka menutup-nutupi.. Semua tampak berbeda dan lebih baik hanya saat proses penilaian saja. Setelah proses penilaian selesai, yaudah kembali seperti semula “agak berantakan” lagi. Kapan mau  benar-benar belajar dan memperbaiki agar jadi lebih baik kalau gitu terus?

Advertisements